Telur Ayam dan Telur Buaya

Ini adalah foto dari bermacam-macam telur:



Ini adalah perbandingan ukuran telur-telur:

Terlihat bahwa ukuran telur ayam dan telur buaya ternyata hampir sama, No. 6 dan 7.
















Kalau nggak percaya, ini gambar telur buaya:


Tapi saya sebenarnya nggak akan membahas tentang telur. Saya hanya ingin mengibaratkan telur-telur tadi dengan 'masalah kecil'. Sepintas kita susah membedakan mana telur ayam mana telur buaya. Padahal kalau sampai telur-telur tadi menetas dan tumbuh dewasa, maka jelas perbedaannya sangat luar biasa besar sekali. Yang satu ayam, satunya buaya.

Nah demikian juga dengan 'masalah kecil'. Masalah kecil ada yang kalau dibiarkan bisa menjadi masalah besar, atau dengan kata lain, itu adalah masalah besar yang masih kecil. Tetapi ada juga masalah kecil yang memang kecil, dan tidak perlu dibesar-besarkan. Terkadang kita kesulitan membedakan mana masalah kecil yang harus dibereskan dan mana masalah kecil yang sebaiknya diabaikan. Tetapi apabila kita salah menyikapinya, maka bisa menjadi sesuatu yang fatal.

Seperti juga membedakan telur ayam dan telur buaya, kalau kita mau mempelajarinya, lama-lama kita pasti faham mana yang ayam mana yang buaya. Yang penting kita selalu bersedia meluangkan waktu dan pikiran untuk menganalisa mana masalah kecil biasa dan mana masalah kecil yang tidak biasa, baik secara individu per individu, ataupun secara masyarakat bersama-sama. Jika tidak, maka masyarakat ini akan menjadi semakin kacau balau saja, karena semakin susah untuk membedakan mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan, dan mana yang benar-benar tidak boleh dilakukan.

Contohnya mana yang boleh dilakukan pasti banyak dan silahkan dicari sendiri. Contoh yang tidak boleh dilakukan adalah melanggar peraturan, karena pelanggaran akan menjadi contoh dan kebiasaan, dan akhirnya akan merusak sistem yang ada dan menimbulkan kekacauan dan kesusahan. Apalagi kalau yang melanggar adalah yang seharusnya menjaga peraturan. Bukan hal yang jarang kalau kita melihat para abdi negara melanggar jalan yang seharusnya satu arah, yang tentu saja akhirnya dicontoh oleh masyarakat. Nah dari pembiaran pelanggaran kecil inilah akhirnya berkembang semakin besar menjadi pelanggaran-pelanggaran besar, korupsi contohnya. Contoh lain adalah disiplin PNS yang legendaris yang kalau dibiarkan pasti akan berakibat disfungsi dari pemerintahan negeri ini.

Nah, contoh yang benar-benar tidak boleh dilakukan adalah, menurut saya, sumpah palsu dan kesaksian palsu. Ini karena bukan hanya bisa merusak sistem yang ada, bahkan lebih jauh merusak prinsip-prinsip dan sendi-sendi kehidupan. Sumpah palsu dan kesaksian palsu sederajat dengan fitnah, lebih kejam dari pembunuhan. Kalau ini dibiarkan tanpa konsekuensi dan hukuman yang berat, dikhawatirkan akan timbul anggapan di masyarakat bahwa itu adalah hal yang biasa saja. Bayangkan apabila omongan orang sudah tidak ada yang bisa dipercaya lagi, dan semua orang menjadi biasa berbohong, maka akan kiamat masyarakat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar